Fasih Radiana

Kalau kamu termasuk penulis dengan genre komedi, apa akan jadi sempurna tanpa tawa pembaca? Jadi, jangan pernah terbesit, kalimat asmara membuatmu kehilangan harga. Karena cinta seperti satuan terkecil yang melengkapi jutaan angka. Cinta juga yang menjadikanmu mampu membuat mereka melengkungkan tawa. Cinta bukan kisah tentang mereka yang membuat hidupnya seakan selalu kecewa, membuat hatinya terlihat selalu meluka. Cinta hanya menawarkan berbagai macam rasa. Terserah, mau pilih yang mana. Meski bukan karena seseorang yang mengelokkannya, percayalah, someday LOVE will find you. Karena cinta selalu mengajariku menyimpulkan hidup dengan lebih sederhana.
Showing posts with label arti galau. Show all posts
Showing posts with label arti galau. Show all posts

Sunday, September 16, 2012

Menggenggam untuk Melepaskan

Sedari tadi aku hanya bisa memandangi layar dengan mata berkunang. Sama seperti aku yang baru saja menatap matamu lekat-lekat malam ini. Sakitnya terlalu tenang untuk meluncurkan air mata. Kamu terlalu hebat menyakitku, sebab aku masih bisa tersenyum tenang dengan kesakitan itu. Kamu terlalu kuat untuk membuatku melupa. Saat ini aku menulis sambil memejamkan mata, aku seperti kehilangan kata. 

Padahal air mata sudah menggantung, tapi Tuhan seperti menahannya. Mungkin tak mengizinkan kamu melihat kesedihan di balik diamku yang membisu.

Kamu datang untuk mengantar kepergian. Padahal aku ingin menangis di pelukmu, mungkin saja air mata bisa menahanmu lebih lama. Tapi kalimat beraroma luka itu terlalu hening untuk menjadikannya air mata. Baru kali ini kesakitanku tak menghasilkan tetesan yang meruncing. Apa karena sudah kadung habis tempo hari?

Kamu pasti ingin segera membacanya, apa yang menjadikanku diam meredam semua kata. Sebenarnya aku ingin bersuara, tapi bahasa seperti sudah lelah menguraikannya. Semalam ini aku hanya ingin merasakan tenang yang kau hadirkan lewat sebuah tatapan. Padahal matamu terlalu sayu untuk menatapku tajam. Tapi aku masih tidak sanggup membalasnya, lebih baik melihat bintang yang bertebaran. Tak 'kan ada jawaban dari sebuah pertanyaan, aku hanya ingin Tuhan saja yang mengatakan. Entah, kapan....

Kamu mencipta kenangan untuk suatu perpisahan. Seharusnya aku menangis kan? Lelaki mana yang bisa melihat wanita menangis apalagi karena dirinya? Seharusnya aku menagis di depanmu! Tapi aku sudah berjanji, Mas. Tak akan menangis di hadapanmu. Seperti yang kau mau, hanya akan ada senyuman yang tanpa tepian. Tentu saja dari ketulusan, itu senyuman paling dalam, teramat dalam. Sebab sebenarnya di sela-selanya ada yang terluka. Tapi suaramu membenamkannya menjadi senyum yang tak 'kan ada tepiannya.

follow me @fasihrdn

Aku menunggu-nunggu kalimat terakhirmu. Tapi ternyata kamu tak juga mengatakannya, pertalian itu, sebut saja dengan rencana pernikahan yang kamu sembunyikan itu. Padahal aku ingin mendengarnya sendiri dari mulutmu....

Entah,  padahal malam ini seharusnya jadi yang paling menyakitkan. Ditinggal orang tuaku, berurut lalu kamu. Tapi mengapa lukanya seperti samar-samar menghilang saat kamu yang melakukannya? Saat kamu berada di dekatku, meski bukan untuk mendekapku. Aku hanya ingin mendegarmu, bukan lagi dengan kedua telingaku. Tapi dengan satu hatiku. Kamu melukaiku dengan cinta yang tak 'kan bisa menjadi bahagia. Tapi mengapa aku seperti mendengar bisikan Tuhan, yang bilang bahwa nanti ada waktunya untuk berbahagia. Ada yang menari-nari dalam pikiranku. 

Sepanjang jalan aku merapal baid-baid doa. Dua kali aku melihat bintang jatuh. Apa betul seperti itu yang namanya bintang jatuh? Membuat hatiku gaduh mengadu. Tapi bukan untuk mengeluh, hanya ingin merasakan kebahagiaanmu. Meski bukan denganku.

Padahal kamu bermaksud mengakhiri apa yang tak sengaja bermula. Tapi aku seperti baru saja memulainya. Seharusnya aku membencimu, ternyata aku memang bukan pembenci yang sempurna. Cukup membencimu dengan cinta saja ... cinta yang tak sempurna, tak akan pernah jadi sempurna.

Aku paham, Mas. Tahu betul arti kalimat-kalimatmu yang seperti susah payah diuraikan. Tapi aku tetap akan melanjutkannya meski sendirian. Sebab berkali-kali aku mencoba menghentikannya, justru membuatku makin lebar membuka hatiku. Tersenyumlah, seperti aku yang sudah baik-baik saja di genggamanmu yang sementara. Aku tak akan mengharapkan apapun, hanya tak bisa menghilangkan satuan-satuannya. Entah sampai kapan, aku tetap mencintaimu sendirian. 

Sampai Tuhan mengabarkan kepastian.



160912~Bukit Bintang terlalu indah untuk suatu perpisahan yang begitu menyakitkan.

Saturday, September 15, 2012

Semalam Tadi Aku Menuliskan Luka


Semalam tadi aku mengutuk diri semalam suntuk. Berteriak tanpa suara. Mengerang menyudutkan kepala. Rasanya ingin kuhantam ke dinding, biar pecah sekalian. Napasku tersengal-sengal, risau berputar-putar menyesak di dada. Sakit sekali rasanya. Semalam tadi aku berjaga. Sudah tiga hari resah tak kunjung mereda. Tiga malam aku duduk bermanja pada kata. Sayangnya, mengapa selalu ada luka di antaranya?

Mungkin itu sebab mengapa aku lebih suka terluka. Karena Tuhan selalu menjatuhkan luka tanpa sisa.

Lihat saja mereka! Yang tidak punya uang untuk makan. Yang tiada daya karena tidak punya apa-apa selain nasi sisa-sisa. Apa mungkin nasi yang sudah mengering hanya akan dibiarkan saja, sedang perut mereka lapar luar biasa. Apa bisa bertahan tanpa menelan makanan?

Bukankah sama saja sepertiku? Luka seperti teman setiap malam, seperti bulan yang mendaki langit diam-diam. Bagaimana mungkin aku menghilangkan lara, sedang Tuhan terus saja menyuguhi hati dengan luka? Padahal jiwa tak mungkin bisa hidup tanpa rasa. Sedang aku hanya terbiasa punya luka. Lalu dengan apa lagi aku merasa kalau bukan dengan luka? Apa bedanya dengan dia yang makan nasi sisa-sisa? Bermula dari paksa menjadi yang terbiasa. Memang begini Tuhan mendidikku dengan luka sukma. Lalu siapa yang bersalah?

Aku bukan yang pandai membenci, bahkan yang pernah mengkhianati. Aku bukan yang mudah membenci, meski Tuhan setia memberi lara bertubi-tubi. Kalau pepatah bilang membenci adalah cara terbaik melupakan seseorang, mungkin aku tak akan pernah bisa melupakan.

Semalam tadi aku berdoa. Bersujud pada Tuhan, meminta pertolongan. Berkali-kali beberapa lelaki memintaku menggenapi, bahkan yang hatinya sudah dimiliki. Tapi aku pernah jadi yang paling angkuh berkata.

"Aku nggak akan pernah mencintai kekasih orang. Banyak lelaki di luar sana yang masih sendirian."

Mungkin Tuhan ingin menjelaskan, rencana-Nya bukan yang bisa ditebak-tebak manusia. Semoga aku salah mengira, mungkin kamu juga yang pernah memuja kata setia. Tapi mungkin saja Tuhan juga sedang mempertemukanmu pada hampa, yang bilang bahwa takdir Tuhan memang menjadi yang tak terduga. Membelit hatimu, membuatnya jadi bergelut dalam kemelut. Seperti kau yang mulai memberiku penyakit akut.

Aku pernah merasakan kesakitan karena diduakan, tapi mengapa yang sekarang rasanya lebih menyakitkan? Bukankah seharusnya jauh lebih pahit diduakan daripada menjadi yang kedua? Mengapa dulu aku bisa memutar logika, membiarkan seseorang merebut apa yang menjadi hakku hanya karena Tuhan menyelipkan satu kalimat, "Mungkin perempuan itu jauh lebih sempurna." Mengapa logika tidak berlaku lagi hari ini? 

Semalam tadi aku menghakimi. Kalau saja keputusan dibuat seperti pemilihan presiden, maka pasti pilihan suara berada pada dia, yang sudah menggenapi hatimu ratusan hari. Tapi kalau saja ketentuan ternyata berlaku seperti kematian, maka Tuhan yang mengaturnya. Siapa yang tahu, siapa yang akan menjadi siapa? Tapi, bukankah begitu hakikatnya? Hanya Tuhan yang tahu di mana separuh tulang rusukmu berada.

Semalam tadi aku menghabiskan waktu dengan menunggu. Menyiapkan diri sakit hati untuk kesekian kali. Kalau saja harus ada yang terluka, mungkin akulah orangnya. Begitu kan? Mungkin saja perempuanmu tidak siap menerima luka, sebab bertahun-tahun kau membiasakan hidupnya bahagia. Atau sebab Tuhan hanya mengajarinya padaku. Tuhan hanya menjejalkan rasa sakitnya pada perempuan itu, Aku.

Semalam tadi aku menangis tersedu-sedu. Bukan lagi sakit yang menusuk-nusuk rusuk. Aku hanya takut membuatmu juga ikut kalut. Berhenti, Mas. Berhenti menghiraukan tulisan-tulisanku yang tumpah dengan abjad pilu. Hentikan saja bacaanmu itu. Mungkin kamu sama seperti perempuan itu, tidak siap terluka. Jangan sampai merasakannya, karena luka itu kejam menerkam. Kalau belum terbiasa maka akan begitu memilukan. Rasanya... air mata saja tak 'kan cukup menjabarkan betapa sakitnya. Cukup aku saja. Bersama Tuhan Aku baik-baik saja.

Kebetulan? Atau sengaja dipertemukan?
Sumpah serapah, aku bukan pengemis cinta. Aku bukan yang akan meminta-minta cinta. Bukankah aku pernah mengatakannya, aku hanya mencinta bukan untuk suatu imbalan serupa. Sebab kau juga pasti menyadarinya, bahwa cinta bukan yang mudah dimengerti artinya. Bisa tiba-tiba datang begitu saja. Bukan manusia yang mengendalikan, bukankah ada dzat penguasa hati? Bukankah masih ada Tuhan? Sudah tertulis rapi pada tinta milik langit. Terkadang membuat semua jadi semakin rumit bekerlit.

Semalam tadi aku membenahi hati, tak ingin menghalangi yang akan pergi. Sungguh, aku tak ingin kau merasakan apa yang menjadikannya luka. Sebab sedari tadi aku menuliskan luka, Mas. Aku mengurainya satu demi satu. Padahal bukan mauku, bukan....

Lalu semalam tadi aku terisak menyesak. Bukan untuk meminta belas kasihan. Jangan menghardik perempuan sepertiku. Sebenarnya aku tidak lebih kuat dari yang terlihat. Mungkin saja Tuhan ingin mengajariku menjadi perempuan bijaksana. Dengan merasakan engkau yang menancapkan gema yang meraung-raung menyakitiku. Mungkin kamu akan berkata akulah yang menyakiti diriku sendiri. Tapi jauh dibalik itu, mungkin ada yang terlupa. Mungkin ada yang tidak kau sadari. Kamulah yang memperjelas lukanya.

Lalu semalam tadi aku terisak menyesak. Bukan untuk meminta belas kasihan. Tidak apa-apa, Mas. Bukankah air mata hanya bahan bakar sederet tawa nantinya? Tidak apa-apa, Mas. Tersenyumlah seolah semua masih dalam keadaan sempurna, baik-baik saja. Tersenyumlah seolah semua baik-baik saja.


150912- 02.37~ Mengurai perasaan bukan untuk secuil belas kasihan! Sebab aku akan tetap baik-baik saja meski air mata meluncur tak tertahankan.