**Lagi. lagi-lagi aku hilang kendali. Bagaimana bisa? Sungguh aku lupa urutan kronologinya. Yang ada di benakku tinggal sengai. Heran juga yang lain ke mana, miris. Sudah, kamu duduk saja jauh dariku. Aku muak melihat raut lusuhmu. Apalagi yang kamu harapkan dari aku? Kamu diam. Kenapa diam saja? Ayo jawab! Mungkin kamu bisu atau mungkin juga kamu tuli. Sungguh membuat lambungku makin perih saja. Ku beri tau ya, Kalau memang maumu begitu, tentu boleh saja. Tapi nanti saja kembali kemari kalau kamu sudah berevolusi. Kecuali kamu sudah siap mendengar kata "TIDAK"
**Kali ini detak jantungku yang tak stabil. Berat, cepat. Sakit, seperti dililit. Tak cukup kuat setengah mati menahan. Makin sakit. Kamu lagi. Sekelebat cepat datang lalu minggat.
**Geli rasanya dengan apa yang ada. Rasanya. Iya. Rasa yang selalu memabukkan. Melambungkan harga kebencian, yang makin pekat saja. Kenapa ini, tiba-tiba yang beku hampir cair. Hampir kabur dari sangkarnya. Benar, berkunang di sudut mata yang lentiknya bukan main, palsu. Persis sama seperti degup jantungnya, berdetak dengan irama dusta.
08.03.11
0 komentar:
Post a Comment