Tuhan, Kaulah pemberi takdir paling sempurna. Aku percaya dan masih percaya itu. Tapi bolehkah aku mempertanyakan sesuatu?
Hidup memang begitu lucu, ada yang sengaja mengumbar pesakitan untuk sebuah harga kasihan. Lucu bukan? Lalu sesekali aku tertawa, apa hebatnya? Demi Kau, aku tak ingin jadi setan yang memainkan peran sebagai antagonis. Tapi seberapa lama aku menjadi pemain yang menonton retorika zaman yang semakin edan. Ah, betapa yang putih tampak hitam. Yang hitam terasa putih.
Tuhan, sudikah tertawa bersamaku kali ini saja? Agar aku tahu, aku memang hanya perlu tawa untuk menceritakan apa yang kurasa.
