Tentu, aku begitu takut tentang apa yang tidak kuketahui sebelumku. Atau sesudah kita nantinya. Andai saja, cinta tak pernah mampir kemari, mungkin saja tak 'kan ada ketakutan yang bermunculan. Menekan-nekan hatiku. Sungguh, saat ini aku merasakan kau remat-remat hatiku dengan tangan orang lain. Sungguh, saat ini aku sedang menahan-nahan dan mengendalikan diri dari sakit yang tak bisa kumungkiri.
Jadi, sebenarnya apa yang kau mau dari perempuan sepertiku, Tuan?
Kalau luka, aku sudah melumatnya. Kalau cinta, aku sudah jatuh di dalamnya. Apalagi? Aku hanya berusaha meredam apa yang semestinya tidak perlu kutakutkan. Tapi, toh, nyatanya perasaan itu terus saja melingkari pikiran. Berjalan-jalan merayap di atap-atap hati, membawa jarum yang begitu runcing. Tusukkan di jantungku, Sayang. Hancurkan aku sekalian!
Mungkin bukan kamu pelakunya, tapi kamu terlibat di dalamnya. Kamu tokoh utamanya kan? Mengapa tak kauakhiri dulu kisahmu yang dulu, baru kau memulainya denganku. Mengapa tak kau katakan padanya tentang hatimu baru kaunyatakan perasaanmu padaku? Mengapa menciptakan garis-garis yang meretak dalam luka sukma....
