Lelehan air mata yang suka tiba-tiba menderas begitu saja adalah bukti bahwa luka itu masih juga menertawakan kepayahanku menerima takdir Tuhan. Mengikhlaskan satu masa yang direnggut tepian jingga, menggenangkan sisa hujan berbayang petang. Dan kesulitanku dalam memaafkan diri atas ingata-ingatan tentang satu ruang yang kauabaikan, yang kaudustai, yang sudah bisa disebut khianat oleh alam. Perlukah aku menceritakan ulang episode yang itu?
Baru saja, aku membaca tulisan panjang berjudul, "Aku Memilih Pergi karena Aku Mencintaimu." Dan berhasil membuat bulu-kudukku merinding sembari gemeretak gigiku makin kacau. Pernah aku menyuruhmu pergi untuk kembali pada wanita yang sudah lama bermain-main takdir di hatimu. Jauh sebelum aku menemukan bola matamu kosong di remang purnama malam itu. (170913)
Aku sudah melipat-lipat kenangan dengan begitu rapi, tapi memoar memaksa diri untuk bermunculan keluar dari sarang, membobol besi-besi yang susah payah kupasang di setiap celah dengan parang. Sudah itu lalu aku bisa apa?
![]() |
| www.fasihrdn.tumblr.com | tweet me @fasihrdn |

