Jogja.
Aku masih punya sekepal dendam yang ingin kubenturkan pada waktu lalu. Biar pecah menyerak. Lalu dirubung rayap. Habis tak berjejak pada bekas tapak di tanah becek berbau humus sisa hujan tiap malam. Siapa pula yang suka di-ganduli kegelisahan penghasil obrolan bergolak uring-uringan. Memoar yang selalu menjadi Ifrit, berbisik nyaring di telinga mengajakku untuk selalu kembali pada kesalahan yang sudah aus tahunan lalu. Usang, tapi selalu saja diasah ulang. Lalu bagaimana bisa bentang masa depan kalau selalu sengaja dibayang-bayang? Sudah masanya singgah babak anyar malah ditarik paksa pulang ke pangkuan kausa.
Siapa yang bisa disalahkan kalau sudah begini?
Oktober.
Dua ribu lima belas menjadi mangsa ketiga kau bersamai waktuku minus satu per satu. Angka di kartu identitasku berubah bilangan, dari belasan menjadi puluhan. Garis kerut memperjelas seraut wajah yang semakin reyot menebalkan cekung hitam di bawah mata yang kian tajam membulat. Kuajaki kau berjalan-jalan di seluruhku siang dan malam sampai sisa remah bulan purnama kau pikir petang senja. Tapi belum cukup waktumu memutari rongga dadaku, kau ketuk degup jantung, lalu bergelayutan di urat nadiku. Menyelami aliran darah sambil berebut udara di sela-sela rusukku. Kau mendesak lambung biar perihnya membukakan jalur pintas menuju hati. Tapi kau sadar betul tak semudah itu. Yang kautemui justru jalan buntu.
Tak ada gang di belakangmu. Pilihannya hanyalah diam di tempat atau maju perlahan dengan upah luka berceceran.
Kau.
Giliranmu sudah usai, biar impas kugambar bukan dengan kuas warna tapi sandi morse anak pramuka. Ada titik pendek bersama garis panjang yang merangkai sebuah kode. Setelahnya masih harus kau analogikan ke dalam bahasa. Kau mesti lihai banyak dialek. Akan kautemui berbagai isyarat tutur kata yang tak lumrah. Membentuk stereotipnya sendiri. Sebab letak kalbu seorang wanita yang merasa mampu tanpa siapapun harus dirobohkan dengan berbagai patois. Kalau kau beruntung, ia tak hanya tunduk tapi juga cinta.
Kuakui kehebatanmu bersabar mengalahkan diri demi bukti penyesalanmu, meski sering aku masih tak percaya. Memekakkan telingamu dengan tuduhan-tuduhan yang selalu sama.
Jarak.
Delapan bulan bukan waktu singkat untuk tatap mata yang saling lupa paras satu sama lain. Mimik muka yang dicuri letusan gunung Karakatau berabad lalu; kau tak lagi mampu menyentuh ujung kuku-ku di tanah Jawa. Aku hanya bisa meraba frekuensi pita suaramu dari gagang telepon genggam. Kau harus punya sayap untuk bisa menjamahku atau paling tidak butuh pesawat terbang untuk mendarat dengan selamat. Kita baru bisa saling menggenggam dengan berenang sampai di pertengahan selat Sunda. Minimal aku harus kuat berlama-lama duduk di kapal bersama ratusan kepala lainnya dengan ancaman muntah-muntah—mabuk laut—demi rindu yang sampai tepat waktu.
Tuhan menguji seberapa tabah aku menanti kabar dan kau betah bersetia pada pilihan yang tidak mudah.

